Makalah Ekonomi Sumber Daya Hutan

Maret 29, 2021 

PEMANFAATAN DAN POTENSI PEMASARAN PAKU POHON (Cyatheacontaminans Wall. ex Hook.) DI KECAMATAN PANCUR BATU DAN KECAMATAN SIBOLANGIT

 

Dosen Penanggungjawab:

Dr. Agus Purwoko. S. Hut., M. Si.

 

Oleh :

Yuda Ilham Ramadhan

191201192

HUT 4D





PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi kehadirat Allah yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai tepat pada waktunya. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini.

Harapan saya, semoga makalah ini dapat diterima dan menambah ilmu pengetahuan serta pengalaman bagi pembaca, saya menyadari masih banyak penulisan yang jauh dari kata sempuna. Oleh karena itu,saya berharap dapat memperbaikinya lagi dimasa mendatang dengan kritik dan saran yang membangun. Dengan ini saya lampirkan tugas saya yang berjudul, “PEMANFAATAN DAN POTENSI PEMASARAN PAKU POHON (Cyathea contaminans Wall. Ex Hook) DI KECAMATAN PANCUR BATU DAN KECAMATAN SIBOLANGIT

 

 

 

 

 

Medan, Maret 2021   

 

 

 

 

                                                                                                                        Penulis


 BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Hutan beserta hasilnya merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berdasarkan bentuk/wujudnya, manfaat hutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu : manfaat langsung (tangible) dan manfaat tidak langsung (intangible). Manfaat tangible antara lain: kayu, hasil hutan ikutan dan lain-lain. Sedangkan manfaat intangible antara lain: pengaturan tata air, rekreasi, pendidikan, kenyamanan lingkungan, dan lain-lain. Berdasarkan kemampuan untuk dipasarkan, manfaat hutan juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu : manfaat marketable dan manfaat non-marketable. Manfaat hutan non-marketable adalah barang dan jasa hasil hutan yang belum dikenal nilainya atau belum ada pasarnya seperti beberapa jenis kayu lokal, kayu energi, binatang, dan seluruh manfaat intangible Hutan beserta hasilnya merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berdasarkan bentuk/wujudnya, manfaat hutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu : manfaat langsung (tangible) dan manfaat tidak langsung (intangible). Manfaat tangible antara lain: kayu, hasil hutan ikutan dan lain-lain. Sedangkan manfaat intangible antara lain: pengaturan tata air, rekreasi, pendidikan, kenyamanan lingkungan, dan lain-lain. Berdasarkan kemampuan untuk dipasarkan, manfaat hutan juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu : manfaat marketable dan manfaat non-marketable. Manfaat hutan non-marketable adalah barang dan jasa hasil hutan yang belum dikenal nilainya atau belum ada pasarnya seperti beberapa jenis kayu lokal, kayu energi, binatang, dan seluruh manfaat intangible.

 

Penggunaan media pakis (tumbuhan paku) sebagai media tanam saat ini sangat digemari, khususnya untuk media tanaman anggrek. Bagian yang digunakan adalah batang maupun akarnya yang dipakai untuk menempelkan tanaman anggrek ini. Masyarakat umumnya ibu-ibu rumah tangga sangat menggemari tanaman anggrek, dengan demikian permintaan terhadap pakis ataupun tumbuhan paku sebagai medianya semakin tinggi. Akan tetapi, persediaan pakis atau tumbuhan paku khususnya paku pohon (Cyathea contaminans) di alam sulit dijumpai atau langka sehingga mengakibatkan harga paku pohon sebagai media anggrek ini cukup tinggi. Berdasarkan uraian di atas akan dilakukan penelitian terhadap pemanfaatan dan potensi pemasaran paku pohon di Kecamatan Pancur Batu dan Kecamatan Sibolangit.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan Paku Pohon?

2.      Apa saja manfaat dari tumbuhan Paku Pohon?

3.      Bagaimana cara pemanenan dan upaya budidaya Paku Pohon?

C. Tujuan

1.   Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Paku Pohon.

2.   Untuk mengetahui apa saja manfaat dari tumbuhan Paku Pohon.

3.   Untuk mengetahui bagaimana cara pemanenan dan upaya budidaya Paku Pohon.


BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Definisi Paku Pohon

Paku pohon/Paku tiang (Cyathea contaminans) merupakan anggota suku Cyatheaceae. Dikenal dengan nama paku pohon karena bentuk perawakannya yang mirip pohon. Mempunyai beberapa sinonim antara lain  Polypodium contaminans, Alsophila glauca , Alsophila contaminans , Alsophila acuta, Alsophila smithiana, dan Alsophila clementis. Tumbuhan jenis ini merupakan tumbuhan paku yang berbentuk pak uyang berbentuk pohon. Bentuknya khusus, hampir menyerupai pohon kelapa sehingga mudah dibedakan dengan jenis paku yang lainnya. Di alam tumbuhnya tidak meneyendiri, melainkan bercampur dengan jenis-jenis lain. Kadang-kadang berkelompok dan banyak dijumpai pada lereng-lereng pegunungan baik yang terbuka maupun tempat-tempat yang terlindung. Jenis ini merupakan tumbuhan paku paling banyak kedua setelah  Asplenium  nidus yang ditemukan. Jenis ini tumbuh tersebar di seluruh kawasan yang diamati mulai. dan biasanya terdapat di hutan yang telah  dibuka dan di tempat-tempat yang terbuka, khususnya di dekat sungai. Jenis ini ditemukan pada ketinggian 200-1.600 m dpl. Daerah penyebarannya di seluruh kawasan Malaysia , Indonesia dan di Semenanjung India.

Tumbuhan ini mempunyai banyak manfaat. Batangnya banyak digunakan untuk bahan patung, tiang-tiang dekorasi rumah mewah atau hotel-hotel, vas bunga, maupun sebagai media tanam anggrek, jenis-jenis  Anthurium, Piper, Platycerium, Adiantum dan jenis-jenis tumbuhan paku lain. Daun yang masih menggulung digunakan sebagai bahan sayur. Bulu-bulu halus digunakan untuk ramuan obat rebus. Jenis ini telah masuk dalam daftar lampiran II CITES, namun belum termasuk dalam daftar tumbuhan yang dilindungi oleh undang-undang. Paku pohon/Paku tiang telah dibudidayakan sebagai tanaman hias. Batangnya sering dipakai sebagai tempat untuk menempelkan tanaman anggrek. Kadang-kadang dicincang halus untuk medium di pot. Batangnya yang besar mulai disukai untuk tiang-tiang dekorasi di rumah-rumah mewah atau hotel-hotel di kota-kota besar. Di beberapa daerah di Jawa pernah dilaporkan bahwa bulu-bulu halus yang terdapat pada pangkal tangkainya dapat dipakai sebagai ramuan obat rebus. Tidak hanya itu paku ini mempunyai batang yang kuat, maka sering digunakan sebagai bahan bagunan, digunakan dalam upacara adat Hindu dan Digunakan sebagai bahan bakar.

  

 A         B. Pemanfaatan Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku pohon mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Hampir semua bagian dari tumbuhan paku pohon dapat dimanfaatkan seperti bagian akar, batang, daun, dan tunasnya. Pada zaman dulu, umumnya masyarakat memanfaatkan tumbuhan paku pohon ini hanya untuk obat dan tiang gubuk/rumah. Masyarakat yang ada di Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur saat ini umumnya memanfaatkan tumbuhan paku pohon ini sebagai media tanaman anggrek ataupun tanaman aglonema. Media tanaman anggrek dari paku pohon yang digunakan oleh masyarakat di desa tersebut dapat dibuat berupa batangan, potongan kecil/sortimen, dan bentuk lainnya seperti berupa serabut ataupun paku pohon tersebut dicincang.Bentuk pemanfaatan paku pohon dapat dilihat pada penjelasan berikut.

      Manfaat paku Pohon oleh Masyarakat Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur adalah :

1.      Akar    :                       Untuk media tanaman anggrek

Untuk media tanaman aglonema

                        Untuk pot bunga

2.      Batang :                       Untuk tiang gubuk atau rumah

Untuk tempat tumbuh lada hitam

3.      Daun   :                       Untuk sayur

4.      Biji      :                       Untuk obat masuk angin

5.      Tunas   :                       Untuk obat demam

Di bagian bawah daun terdapat seperti gumpalan yang berwarna coklat digunakan sebagai obat masuk angin. Masyarakat Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur menyebutnya dengan biji paku pohon. Biji tersebut akan lepas dengan sendirinya dari daun tersebut dan menjadi seperti serbuk halus berwarna coklat. Penggunaannya dengan cara disembur kepada yang sakit masuk angin.

Tunas paku pohon digunakan sebagai obat penurun panas. Tunas dari paku pohon tersebut diserut dan diletakkan ke dahi orang yang sakit. Bagian tumbuhan paku pohon yang digunakan sebagai obat yakni, bagian bijinya yang terletak di bawah daunnya dan tunas dari paku pohon tersebut untuk saat ini sudah sangat jarang sekali dimanfaatkan oleh masyarakat di desa tersebut.Hal ini dikarenakan pada zaman sekarang ini sudah banyak sekali obat-obat untuk penurun panas berbahan kimia yang dijual di pasar dan sangat mudah untuk memperolehnya.

Sedangkan kalau menggunakan biji dan tunas paku pohon ini sebagai obat penurun panas akan sulit pengerjaannya dan membutuhkan waktu yang lama.Akar tumbuhan paku pohon yang digunakan sebagai media tanaman anggrek dan aglonema ini adalah tumbuhan paku pohon yang sudah berumur kira-kira 10 tahun ke atas. Masyarakat di Desa Bintang Meriah dan digunakan dengan berbagai bentuk sebagai media tanaman anggrek dan aglonema, seperti berbentuk batangan, berbentuk pot bunga, dan serabut atau cacahan halus.

C. Pemanenan dan Upaya Budidaya Paku Pohon

Tingginya nilai ekonomi dari tumbuhan paku pohon sebagai media tanaman anggrek mengakibatkan sebagian masyarakat yang ada di Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur bekerja sebagai pengambil ataupun penjual tanaman paku pohon. Masyarakat Desa Suka Makmur yang mengambil paku pohon biasanya mengambil tumbuhan paku pohon ini dari Desa Rumah Bacang, yakni lahan milik sebuah perusahaan yang memproduksi benang sutra dan lahan tersebut ditanami dengan tanaman batang rami yang digunakan sebagai makanan ulat sutra.Pada umumnya paku pohon ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media tanaman anggrek. Oleh karena itu, bagian tumbuhan paku pohon yang diambil oleh pengambil hanya bagian bawah batangnya saja, yakni sekitar 1 m dari akarnya. Sedangkan bagian batang dan daunnya dibuang atau dibiarkan begitu saja di tempat pengambilan paku pohon tersebut.

Sampai saat ini, masyarakat tersebut belum pernah ada upaya untuk membudidayakan paku pohon dan mereka hanya mengambil atau memanfaatkannya. Dengan demikian, keberadaan tumbuhan paku pohon ini sudah sangat jarang ditemukan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Andari dkk (2011), yang menyatakan bahwa persediaan tumbuhan paku di alam susah dijumpai karena banyaknya masyarakat yang menggunakannya. Kendala masyarakat di Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur dalam membudidayakan paku pohon adalah kurang mengertinya masyarakat di desa tersebut bagaimana teknik membudidayakan paku pohon sehingga diharapkan peran serta dari pemerintah untuk membantu masyarakat memberikan penyuluhan bagaimana teknik yang harus dilakukan dalam membudidayakan paku pohon.

Pemanfaatan secara lestari terhadap paku pohon tersebut juga perlu diperhatikan agar kesinambungan persediaan paku pohon sebagai media tanaman anggrek tetap terpelihara. Hal ini sesuai dengan UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyatakan bahwa konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pengambilan paku pohon yang ada di desa tersebut tidak mengikuti kaidah konservasi terhadap sumber daya alam tersebut. Untuk itu sangat diperlukan peran dari pemerintah memberikan penyuluhan untuk membudidayakan paku pohon kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang mengambil paku pohon sehingga kesinambungan persediaan paku pohon tersebut tetap terjaga.

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

1.   Paku pohon/Paku tiang (Cyathea contaminans) merupakan anggota suku Cyatheaceae. Dikenal dengan nama paku pohon karena bentuk perawakannya yang mirip pohon. Mempunyai beberapa sinonim antara lain  Polypodium contaminans, Alsophila glauca , Alsophila contaminans , Alsophila acuta, Alsophila smithiana, dan Alsophila clementis. Tumbuhan jenis ini merupakan tumbuhan paku yang berbentuk pak uyang berbentuk pohon.

2.  Pemanfaatan tumbuhan paku pohon oleh masyarakat Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur sebagai media tanaman anggrek/aglonema, pot bunga, tiang gubuk atau rumah, tempat tumbuh lada hitam, untuk sayur, obat masuk angin dan demam.

3.  Tumbuhan paku pohon mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Hampir semua bagian dari tumbuhan paku pohon dapat dimanfaatkan seperti bagian akar, batang, daun, dan tunasnya.

4. Teknik pemanenan paku pohon oleh masyarakat di Desa Bintang Meriah dan Desa Suka Makmur belum mengikuti kaidah konservasi karena tidak ada upaya dari masyarakat untuk membudidayakan tumbuhan paku pohon tersebut.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Affandi, O dan Patana, P. 2004. Perhitungan Nilai Ekonomi Pemanfaatan Hasil Hutan Non-marketable oleh Masyarakat Desa Sekitar Hutan (Studi Kasus Cagar Alam Dolok Sibual-buali Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan). Laporan Penelitian. Program Ilmu Kehutanan ± Universitas Sumatera Utara.

Andari, T., Dwi F. A. L., dan Danti K. S. 2011. Menekan Penggunaan Media Tanam Akar Pakis (Cyathea contaminans (Hook.)Copel.) Untuk Budidaya Anggrek dengan Inovasi Media Tanam Arang Sekam. Program Kreativitas Mahasiswa. IPB. Bogor.

Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan ke-5. Awang, S.A., Wahyu A., Bariatul H., Wahyu T.W., Agus A. 2002. Hutan Rakyat: Sosial Ekonomi dan Pemasaran. BPFE-Yogyakarta. Cetakan Pertama.

Hartini, S. dan Handayani, T. 2003. Perkecambahan Spora Paku Pohon (Cyathea contaminans (Wall.ex HOOK.)Copel) pada Berbagai Media Tumbuh. Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor. LIPI. Bogor.

Hartini, S. 2006. Tumbuhan Paku di Cagar Alam Sago Malintang, Sumatera Barat dan Aklimatisasinya di Kebun Raya Bogor. Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor. LIPI. Bogor.

Kuswanto, Nani R., Nurjannah A., Afrialsyah L., Wagiman, dan Nur R. 2010. Perbandingan Kepadatan dan Frekuensi Paku Epifit pada Dua Inang Berbeda. MTsN

Latifah, S. 2004. Penilaian Ekonomi Hasil Hutan Non Kayu. Program Studi Ilmu Kehutanan ± Universitas Sumatera Utara.

Lubis, S.R. 2009. Keanekaragaman dan Pola Distribusi Tumbuhan Paku di Hutan Wisata Alam Taman Eden Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Sekolah Pascasarjana. Program Studi Biologi - Universitas Sumatera Utara.

Marini, Y., Sutarno, dan Ahmad D. S.. 2005. Analisis Minyak Atsiri pada Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan Air Terjun Pangajaran Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta.


 


 


Comments

  1. Terima kasih atas ilmu pengetahuannya 👍 berguna bagi para pembaca

    ReplyDelete

Post a Comment